Lulusan S2 Kebijakan Publik Universitas Indonesia. Lahir di Sumbawa, 14 Maret 1989. Pemerhati Kebijakan Publik, Leadership, Marketing, dan Branding.

UKI KIFLI ©

Diberdayakan oleh Blogger.

Resume

Organization

1. PASKIBRAKA SMAN 1 Lunyuk 2006-2007 [Anggota]
2. Pramuka SMAN 1 Lunyuk 2006-2007 [Anggota]
3. OSIS SMAN 1 Lunyuk 2006-2007 [Kabid. Keagamaan]
4. KAMMI IKIP Mataram 2010-2011 [Staf Kaderisasi]
5. KAMMI Daerah NTB 2012 [Kadep Kaderisasi]
6. LDK An-Nuur IKIP Mataram 2010-2012 [Ketua Umum]
7. Parta PAS IKIP Mataram 2010-2011 [Bidang Informasi dan Data]
8. DPM IKIP Mataram 2010-2011 [Bidang Pendidikan]
9. IPMI Mataram 2010-2011 [Bidang Data dan Riset]
10. FAMILI SAMAWA 2010-2011 [Kabid. Kaderisasi]
11. FSLDK Bali-Nusra 2010-2011 [Bidang Isu dan Media]
12. Ketua Kelompok PPL-KKN Terpadu IKIP Mataram di SMKPPN Mataram 2011
13. Pusat Informasi Pare [PIP] 2013 [Ketua Umum]
14. IKPPML Mataram 2010-2011 [Kabid. Keagamaan]
15. FKPPME Desa Emang Lestari 2013-2015 [Penggagas dan Ketua Umum]

Education

Universitas Indonesia Jurusan Administrasi dan Kebijakan Publik |S2| - Jakarta
IKIP Mataram Jurusan Matematika |S1| - Nusa Tenggara Barat
SMAN 1 Lunyuk - Sumbawa
SMPN 2 Lunyuk - Sumbawa
SDN Emang Lestari, Lunyuk - Sumbawa

Portfolio

Ide Hebat: Peluang Usaha Ratusan Juta dari Bisnis Toilet


Urbanisasi, nampaknya bukan merupakan hal yang asing lagi di Indonesia. Hampir setiap tahun, penduduk desa berbondong-bondong pindah ke kota-kota besar untuk mengadu nasib, mencari sesuap nasi dan mengejar mimpi mereka. Salah satu dampak yang ditimbulkan adalah pertambahan penduduk kota yang kian tak terbendung. Padatnya jumlah penduduk perkotaan membuat persaingan untuk mempertahankan hidup semakin ketat. Akibatnya, yang mampu bersaing tinggal dan hidup di pusat kota dengan fasilitas yang memadai. Sementara yang tidak mampu bersaing tinggal di pinggiran kota dengan mendirikan gubuk-gubuk liar di daerah-daerah bantaran sungai, di daerah-daerah jalur hijau, dan di tepi jalur kereta api.

Sungguh ironis ketika melihat pemandangan yang begitu timpang antara kehidupan masyarakat miskin dan kaya di kota-kota besar. Sebut saja, Ibukota misalnya. Di Jakarta, pertambahan penduduk akibat urbanisasi mencapai lebih kurang 134 ribu jiwa per tahun. Sementara data sensus penduduk pada tahun 2010 menunjukkan penduduk Jakarta sudah mencapai 9.588.198 jiwa. Dapat dipastikan, jika setiap tahun rata-rata pertambahan penduduk Jakarta mencapai 134 ribu jiwa maka pada tahun 2020 penduduk Jakarta bisa mencapai angka 20 juta lebih.

Karena lonjakan pertambahan penduduk kota yang meningkat begitu drastisnyaya maka kita bisa melihat di area-area publik terjadinya kerumunan manusia dan antrian panjang seperti di halte-halte, stasiun, terminal, pasar, dan tempat-tempat rekreasi. Sayangnya, di tempat-tempat tersebut sangat minim tersedia fasilitas toilet padahal toilet adalah bagian terpenting dalam kehidupan manusia sehari-hari. Toilet bukan lagi merupakan pilihan tapi toilet adalah suatu kebutuhan. Kalaupun ada tersedia, tidak sebanding dengan lonjakan penduduk setiap tahunnya dan sulit sekali menemukan toilet yang sehat dan bersih.

Sampai saat ini banyak yang beranggapan bahwa membicarakan toilet adalah hal yang sangat tabuh dan memalukan. Mebicarakan toilet seolah-olah menjadi topik yang begitu kotor dan menjijikkan. Padahal untuk menjadi bangsa yang kuat kita memerlukan manusia yang bersih dan sehat. Untuk dapat mencapai hal itu maka dapat dilakukan melalui sanitasi yang benar dan sehat.

Permasalahan toilet bukan hanya menjadi masalah kota, tapi juga menjadi masalah bangsa bahkan dunia. Semakin meningkatnya jumlah penduduk di muka bumi ini semain sedikit pula manusia yang bisa mengkses toilet dan air bersih. Karena keterbatasan akses tersebut, anak-anak dan kaum ibu banyak yang meninggal dunia akibat penyakit diare serta semakin banyak orang-orang yang membuang hajat di alam terbuka dan beranggapan bahwa alamlah yang akan membereskannya.

Dengan jumlah penduduk yang meningkat begitu pesat dan dari tahun ke tahun semakin tidak terkontrol tentunya alam tidak akan mampu mengatasi hal ini. Manusialah yang harus mengatur dan mencari solusi terbaik agar permasalahan minimnya fasilitas toilet bersih dan sehat tidak berlarut-larut karena itu akan berdampak tidak hanya bagi sektor kesehatan tapi juga budaya dan pariwisata.

Dalam memasuki era “Green Planet”, tentunya kita dituntut untuk peduli terhadap penyediaan, dan pemeliharaan kebersihan toilet yang “Green” artinya ketersediaan fasilitas toilet yang tidak mengganggu aktivitas publik, tidak mencemari lingkungan serta tidak berbahaya bagi manusia. Jika diperhatikan saat ini begitu banyak penyedia jasa pembersihan toilet yang hanya mencari keuntungan besar tanpa mempedulikan lingkungan dengan memakai bahan pembersih berbahan kimia tinggi yang dapat merusak lingkungan dan kesehatan manusia.

Jika selama ini kita berharap pemerintah untuk menyediakan fasilitas toilet tentu itu tidak dapat dilakukan dengan memuaskan karena berbagai macam kendala seperti anggaran dan ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM). Untuk itulah sektor swasta perlu turun tangan untuk menangani masalah tersebut. Kehadiran pihak swasta sangat dibutuhkan. Dengan melihat dampak negatif yang ditimbulkan oleh minimnya fasilitas toilet maka menjadi hal yang sangat mungkin jika penyediaan toilet di tempat-tempat umum dikomersilkan atau menjadi Ide Bisnis yang sangat menarik.

Ide Bisnis toilet merupakan Peluang Usaha yang dapat memberikan begitu banyak dampak positif jika dilakukan dengan serius seperti membantu sektor kesehatan, tenaga kerja serta prilaku budaya bangsa karena dari toilet kita bisa memulai hidup sehat, hidup bersih, dan akan menjadi identitas bangsa kita. Ada ungkapan yang mengatakan, untuk melihat apakah organisasi suatu perusahaan memiliki manajemen yang baik, bisa dilihat dari kebersihan toiletnya, tidak peduli apakah itu adalah perusahaan komersial, sekolah, rumah sakit, hotel, terminal, bandara, ataupun badan usaha milik negara.

Potensi Peluang Usaha toilet memang sangat menjanjikan. Ambil saja sebagai contoh kota Jakarta. Di kota Jakarta ada begitu banyak tempat-tempat umum seperti pasar dan tempat-tempat rekreasi yang minim menyediakan fasilitas toilet. Jika hanya di daerah Jakarta pihak swasta dapat membuat toilet bersih dan sehat sekitar 100 buah toilet di tempat-tempat strategis. Dengan asumsi dalam sehari terdapat 20 orang yang menggunakan toilet dimana biaya sekali menggunakan toilet adalah Rp 1.000,- untuk yang membuang air kecil dan Rp 2.000,- untuk yang membuang air besar maka dalam sehari dapat meraih omset Rp 6.000.000,- Itu hanya untuk omset, belum lagi dampak positif yang lainnya.


Sementara untuk penyerapan lapangan pekerjaan, 1 toilet dapat menyerap tenaga kerja 2 orang. Artinya dalam 100 tolet dapat menyerap 200 tenaga kerja. Setidak-tidaknya, hadirnya Ide Bisnis toilet dapat meringankan beban pemerintah dalam mengelolah dan menjaga sektor kesehatan ketika itu dapat direalisasikan karena sebagaimana diketahui bahwa penyebaran penyakit menular sering terjadi melalui kotoran atau air kencing manusia. Jika diperhatikan prilaku masyarakat Indonesia saat ini yang membuang air besar atau kecil sembarangan maka menjadi tanggung jawab bersama terutama pebisnis bagaimana membuat toilet yang tidak hanya sebagai tempat untuk pembuangan air kecil atau besar tetapi bagaimana memberikan pendidikan kepada masyarakat untuk hidup bersih dan menjaga budayah bersih serta sehat. Dengan tersedianya fasilitas toilet bersih dan sehat yang memadai maka bangsa Indonesia dapat menjadi bangsa yang kuat dan hebat.  
Category

Tidak ada komentar:

Leave a Reply

Popular Post

Comments

Videos

Formulir Kontak

♖Your Name :
✎Your Email *required
✉Your Message *required