Resume
Organization
1. PASKIBRAKA SMAN 1 Lunyuk 2006-2007 [Anggota]
2. Pramuka SMAN 1 Lunyuk 2006-2007 [Anggota]
3. OSIS SMAN 1 Lunyuk 2006-2007 [Kabid. Keagamaan]
4. KAMMI IKIP Mataram 2010-2011 [Staf Kaderisasi]
5. KAMMI Daerah NTB 2012 [Kadep Kaderisasi]
6. LDK An-Nuur IKIP Mataram 2010-2012 [Ketua Umum]
7. Parta PAS IKIP Mataram 2010-2011 [Bidang Informasi dan Data]
8. DPM IKIP Mataram 2010-2011 [Bidang Pendidikan]
9. IPMI Mataram 2010-2011 [Bidang Data dan Riset]
10. FAMILI SAMAWA 2010-2011 [Kabid. Kaderisasi]
11. FSLDK Bali-Nusra 2010-2011 [Bidang Isu dan Media]
12. Ketua Kelompok PPL-KKN Terpadu IKIP Mataram di SMKPPN Mataram 2011
13. Pusat Informasi Pare [PIP] 2013 [Ketua Umum]
14. IKPPML Mataram 2010-2011 [Kabid. Keagamaan]
15. FKPPME Desa Emang Lestari 2013-2015 [Penggagas dan Ketua Umum]
2. Pramuka SMAN 1 Lunyuk 2006-2007 [Anggota]
3. OSIS SMAN 1 Lunyuk 2006-2007 [Kabid. Keagamaan]
4. KAMMI IKIP Mataram 2010-2011 [Staf Kaderisasi]
5. KAMMI Daerah NTB 2012 [Kadep Kaderisasi]
6. LDK An-Nuur IKIP Mataram 2010-2012 [Ketua Umum]
7. Parta PAS IKIP Mataram 2010-2011 [Bidang Informasi dan Data]
8. DPM IKIP Mataram 2010-2011 [Bidang Pendidikan]
9. IPMI Mataram 2010-2011 [Bidang Data dan Riset]
10. FAMILI SAMAWA 2010-2011 [Kabid. Kaderisasi]
11. FSLDK Bali-Nusra 2010-2011 [Bidang Isu dan Media]
12. Ketua Kelompok PPL-KKN Terpadu IKIP Mataram di SMKPPN Mataram 2011
13. Pusat Informasi Pare [PIP] 2013 [Ketua Umum]
14. IKPPML Mataram 2010-2011 [Kabid. Keagamaan]
15. FKPPME Desa Emang Lestari 2013-2015 [Penggagas dan Ketua Umum]
Education
Universitas Indonesia Jurusan Administrasi dan Kebijakan Publik |S2| - Jakarta
IKIP Mataram Jurusan Matematika |S1| - Nusa Tenggara Barat
SMAN 1 Lunyuk - Sumbawa
SMPN 2 Lunyuk - Sumbawa
SDN Emang Lestari, Lunyuk - Sumbawa
IKIP Mataram Jurusan Matematika |S1| - Nusa Tenggara Barat
SMAN 1 Lunyuk - Sumbawa
SMPN 2 Lunyuk - Sumbawa
SDN Emang Lestari, Lunyuk - Sumbawa
Recent Posts
Di sela-sela menyusun tugas akhir, kusempatkan diri tuk merangkai kata dengan harapan dapat memetik makna dan memberikan hikmah bagi sapapun yang membacanya. Untuk Istriku tercinta, tulisan ini kupersembahkan buatmu, calon Ibu untuk anak-anakku.
Pertama-tama…kuucapkan selamat atas kebahagiaanmu. Bahagia karena telah bertambahnya usia organisasi tempat dirimu ditempa, dididik, dan dibesarkan hingga menjadi perempuan tangguh. 49 tahun bendera organisasimu berkibar di negeri ini. 49 tahun organisasimu membina perempuan muda di negeri ini dari Sabang sampai Marauke. Dalam usia yang sudah tidak muda lagi, tak pernah mengenal lelah, tak pernah istirahat, dan takkan pernah berhenti bergerak sampai kapanpun hingga Pemilik alam semesta ini menghentikannya. Entah berapa banyak perempuan-perempuan hebat di negeri ini telah lahir dari Rahimnya. Sejarah telah mencatat perjuangannya. Sekali lagi kuucapkan, jayalah KOHATI, tetaplah berkontribusi dan menginspirasi negeri. Bahagialah Ibu pertiwi.
Untuk Ibu yang telah melahirkanmu di ujung timur pulau Sumbawa. Saat ini sedang berada di puncak tertinggi kabupaten Bima. Kuucapkan terima kasih atas ketabahannya yang luar biasa dalam mendidik dan membesarkanmu. Dengan penuh kesabaran, semangat, dan kerja kerasnya menyekolahkanmu hingga ke perguruan tinggi sampai akhirnya adindaku merasakan betapa manisnya sebuah kesuksesan. Telah gugur tanggung jawabnya untuk membinamu dan akhirnya tanggung jawab itu kini kuemban untuk hidup berdampingan denganmu, mengukir, merangkai dan menata masa depan kita bersama. Do’a selalu kupanjatkan, semoga Ibundaku, Ibu mertuaku nan jauh di sana tetap sehat, tetap kuat, tetap bahagia bersama cucu-cucunya dan selalu berada dalam lindungann-Nya. Aamiin.
Adindaku, orang bijak mengatakan, “Di balik pria agung, ada wanita agung di belakangnya”. Keberhasilan suatu negara dapat dilihat dari perempuannya. Jika ia baik, maka negara akan baik. Sebaliknya, jika ia rusak, maka akan rusak pula negara itu. Mengapa bisa demikian? Sebab, perempuan yang juga seorang Ibu, memiliki peran besar dalam membentuk watak, karakter, dan pengetahuan seseorang. Ibu adalah guru pertama sebelum si kecil berguru kepada siapapun yang terkenal hebat akan keilmuannya. Tidak ada guru yang lebih hebat melebihi Ibu. Maka, kecerdasan, keuletan, dan perangai sang Ibu adalah faktor dominan bagi masa depan anak.
Tulisan ini ingin mengajakmu adindaku untuk mengenang jejak perempuan-perempuan hebat yang pernah ada di dunia ini. Perempuan yang telah melahirkan generasi-generasi hebat. Perempuan yang telah tercatat namanya dengan tinta emas dalam lembaran sejarah dunia. Perempuan yang telah diabadikan namanya dalam Al-Qur’an, petunjuk hidup umat manusia. Dialah Maryam binti Imran. Perempuan terbaik yang pernah diciptakan oleh Allah SWT. Rarulullah SAW. menyebutkan bahwa Maryam merupakan golongan muslimah terbaik yang akan masuk syurga.
Sejak kecil ia sudah dekat dengan Allah SWT. Ia membiasakan dirinya untuk beribadah, bermunajat, dan do’a tidak pernah ia lupakan. Ketakwaannya sungguh begitu sempurna. Tak heran mukjizat diberikan kepadanya berupa makanan yang berasal langsung dari sisi Allah SWT (QS. Ali Imran: 37). Dari rahimnyalah lahir seorang Nabi yang mulia yaitu Nabi Isa as.
Adindaku, mungkin engkau juga pernah mendengar nama Siti Hajar. Perempuan yang begitu tabah dan sabar dalam menghadapi ujian dari Tuhannya. Saat ditinggal oleh suaminya, Ibrahim. Ia iklas melepas kepergian suaminya untuk menunaikan perintah Tuhannya. Setelah kepergian Ibrahim, ia kehabisan air di tanah yang gersang. Bayinya mulai kehausan dan lemas. Siti Hajar pun pergi untuk mencari air meninggalkan anaknya hingga ke puncak bukit Shafa. Di puncak bukit Shafa air tak kunjung didapatkan lalu ia mendatangi bukit Marwah sampai tujuh kali namun tetap saja nihil. Ia hanya bisa bersabar, tabah, dan terus berikhtiar. Akhirnya Allah SWT mengutus malaikat-Ntya untuk mengais-ngais tanah hingga memunculkan air. Mengetahui hal itu, Siti Hajar mendatangi air tersebut, mengisi bejananya dan menemui anaknya. Sunguh kuasa Tuhan untuk hambanya yang beriman.
Betapa beriman dan bertakwanya Siti Hajar. Kisahnya diabadikan oleh Allah SWT menjadi salah satu rukun yang wajib dilakukan dalam Ibadah Haji yaitu sa’i. Banyak hikmah yang terkandung dalam rukun sa’i, salah satunya memberi pelajaran bahwa dalam menjalani kehidupan ini diperlukan kesabaran yang bukan berarti diam. Dengan berlarinya Siti Hajar dari bukit Shafa dan Marwah merupakan bentuk usaha yang ditunjukkan oleh Siti Hajar melalui satu upaya keras yang dilakukan pada saat itu. Dari ramimnya lahir seorang Nabi yang begitu mulia. Dia Iimail as, seorang bayi yang kehausan dan lemas karena kekuarang air saat ditinggal oleh ayahnya, Ibrami as.
Adindaku, kisah selanjutnya adalah kisah Ibunda Imam Syafi’i. kisah yang tak kalah hebatnya. Berbeda halnya dengan Maryam binti Imran dan Siti Hajar. Perempuan satu ini adalah perempuan yang telah melahirkan seorang imam besar yang dikenang sejarah Islam hingga hari ini. Sebelum Imam Syafi’I lahir, Ibunya bermimpi melihat bintang keluar dari kandungannya. Bintang itu melambung ke angkasa, kemudian pecah menjadi beberapa bagian. Bintang itu jatuh ke suatu negeri dan menyinarinya. Menurut ahli mimpi kala itu, mimpi tersebut merupakan pertanda bahwa sang Ibu kelak akan melahirkan seorang bayi lelaki yang terkenal luas ilmunya.
Imam Syafi’i lahir dari keluarga yang tidak mampu. Saat lahir, ayahnya telah meninggal dunia. Tinggallah sang Ibu yang hidup dalam kemiskinan. Tetapi, miskin harta, tidak lantas membuatnya miskin orientasi hidup, pendidikan, dan miskin semangat. Ibunda Imam Syafi’i walau telah ditinggal mati suaminya, tak pernah kenal kata “seperti burung yang patah sebelah sayapnya”. Dia tetap tegar dalam sebuah tekad untuk menjaga amanah yang ditinggalkan suaminya. Tidak ada amanah harta, tetapi ada amanah anak. Ibunya yang miskin itu mulai menyusun rencana untuk pendidikan anaknya. Pertama, Imam Syafi’i harus belajar bahasa arab yang baik dari suku yang dikenal paling fasih dalam bahasa arab. Kedua, Imam Syafi’i harus duduk belajar dengan para ulama di Masjidil Haram Makkah. Ketiga, Imam Syafi’i harus belajar dari para ulama di luar Makkah terutama Madinah. Masya Allah, luar biasa tekad seorang Ibu miskin yang ditinggal wafat oleh suaminya. Azzamnya untuk menjadikan anaknya menjadi manusia hebat tak mampu dihalangi oleh kekuarang (harta) yang dimiliki. Buah dari cita-cita, impian dan kerja kerasnya membuat anaknya yaitu Imam Syafi’i menjadi imam umat Islam pada zamannya dan terkenal luas ilmunya.
Terakhir, kisah seorang Ibu yang paling simpatik kepada apa yang dirasakan oleh anaknya, sekalipun dalam hal yang kelihatannya sangat sepele bagi sebagian orang. Suatu ketika, umar Bin Abdul Aziz kecil menangis. Lantas ibundanya yaitu Ummu Ashim datang menghampiri dan menyapanya, “Apa yang membuatmu menangis wahai anakku?”
“Aku teringat kematian,” jawabnya. Sejenak dirinya terdiam lantas melanjutkan, “Dan, pada hari itu, al-qur’an telah dikumpulkan”. Seketika itu Ibunya ikut menangis mendengar perkataan putranya tersayang. Barangkali hal itu sangat sederhana, tapi cerinta itu sunggu sangatlah hebat. Tak ada anak sekecil Umar bin Abdul Aziz kala itu mampu mengajak larut ibunya untuk merenungi kematian hingga keduanya meneteskan air mata.
Umar bin Abdul Aziz merupakan pemimpin besar yang telah menghiasi dunia dengan sikap zuhud dan memenuhi setiap penjuru bumi dengan keadilannya. Nama besar yang tersemat pada diri Umar bin Abdul Aziz, pemimpin hebat yang kata Imam Syafi’i masuk dalam daftar nama Khulafaur Rasyidin kelima setelah Ali. Kehebatan Umar bin Abdul Aziz tentu tak akan bisa dilepaskan dari perjuangan sang Ibu yang setia menemaninya dalam suka dan duka. Kalau Umar bin Abdul Aziz hebat, tentu yang jauh lebih hebat adalah Ibunya yang melahirkan dan mendidiknya, Ummu Ashim.
Adindaku, setelah membaca keempat kisa perempuan hebat di atas semoga mampu memberikan hikmah dan menginspirasimu sebagai calon Ibu buat anak-anakku. Sejarah akan terus berputar. Sejarah akan tetap terulang. Hanya pelaku dan masanya yang berbeda. Jadilah pencetak sejarah, persiapkan dirimu untuk menjadi Ibu yang siap melahirkan generasi hebat. Siap membesarkan, membina, dan mendidik anak-anakmu untuk menjadi manusia luar biasa. Ingatlah…Lelaki hebat pasti ada perempuan hebat di belakangnya. Perempuan hebat tentunya akan melahirkan generasi-generasi hebat. Di akhri tulisan ini, kupanjatkan doa, ”Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami orang-orang yang bertaqwa. Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah do’aku. Ya Tuhan kami, beri ampun aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat). Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesunggunya Engkau Maha Pendengar doa’. Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang shalih. [QS. Alfurqan: 74, Ibrahim: 40-41, Ali Imran: 38, dan al-Shaffat: 100] ///[UK]*
Urbanisasi, nampaknya
bukan merupakan hal yang asing lagi di Indonesia. Hampir setiap tahun, penduduk
desa berbondong-bondong pindah ke kota-kota besar untuk mengadu nasib, mencari
sesuap nasi dan mengejar mimpi mereka. Salah satu dampak yang ditimbulkan adalah
pertambahan penduduk kota yang kian tak terbendung. Padatnya jumlah penduduk perkotaan
membuat persaingan untuk mempertahankan hidup semakin ketat. Akibatnya, yang
mampu bersaing tinggal dan hidup di pusat kota dengan fasilitas yang memadai. Sementara
yang tidak mampu bersaing tinggal di pinggiran kota dengan mendirikan
gubuk-gubuk liar di daerah-daerah bantaran sungai, di daerah-daerah jalur
hijau, dan di tepi jalur kereta api.
Sungguh ironis ketika
melihat pemandangan yang begitu timpang antara kehidupan masyarakat miskin dan
kaya di kota-kota besar. Sebut saja, Ibukota misalnya. Di Jakarta, pertambahan
penduduk akibat urbanisasi mencapai lebih kurang 134 ribu jiwa per tahun. Sementara
data sensus penduduk pada tahun 2010 menunjukkan penduduk Jakarta sudah
mencapai 9.588.198 jiwa. Dapat dipastikan, jika setiap tahun rata-rata
pertambahan penduduk Jakarta mencapai 134 ribu jiwa maka pada tahun 2020
penduduk Jakarta bisa mencapai angka 20 juta lebih.
Karena lonjakan pertambahan
penduduk kota yang meningkat begitu drastisnyaya maka kita bisa melihat di
area-area publik terjadinya kerumunan manusia dan antrian panjang seperti di halte-halte, stasiun,
terminal, pasar, dan tempat-tempat rekreasi. Sayangnya, di tempat-tempat
tersebut sangat minim tersedia fasilitas toilet padahal toilet adalah bagian
terpenting dalam kehidupan manusia sehari-hari. Toilet bukan lagi merupakan
pilihan tapi toilet adalah suatu kebutuhan. Kalaupun ada tersedia, tidak
sebanding dengan lonjakan penduduk setiap tahunnya dan sulit sekali menemukan
toilet yang sehat dan bersih.
Sampai saat ini banyak
yang beranggapan bahwa membicarakan toilet adalah hal yang sangat tabuh dan
memalukan. Mebicarakan toilet seolah-olah menjadi topik yang begitu kotor dan
menjijikkan. Padahal untuk menjadi bangsa yang kuat kita memerlukan manusia yang
bersih dan sehat. Untuk dapat mencapai hal itu maka dapat dilakukan melalui
sanitasi yang benar dan sehat.
Permasalahan toilet
bukan hanya menjadi masalah kota, tapi juga menjadi masalah bangsa bahkan
dunia. Semakin meningkatnya jumlah penduduk di muka bumi ini semain sedikit
pula manusia yang bisa mengkses toilet dan air bersih. Karena keterbatasan
akses tersebut, anak-anak dan kaum ibu banyak yang meninggal dunia akibat
penyakit diare serta semakin banyak orang-orang yang membuang hajat di alam
terbuka dan beranggapan bahwa alamlah yang akan membereskannya.
Dengan jumlah penduduk yang
meningkat begitu pesat dan dari tahun ke tahun semakin tidak terkontrol tentunya
alam tidak akan mampu mengatasi hal ini. Manusialah yang harus mengatur dan
mencari solusi terbaik agar permasalahan minimnya fasilitas toilet bersih dan
sehat tidak berlarut-larut karena itu akan berdampak tidak hanya bagi sektor
kesehatan tapi juga budaya dan pariwisata.
Dalam memasuki era
“Green Planet”, tentunya kita dituntut untuk peduli terhadap penyediaan, dan pemeliharaan
kebersihan toilet yang “Green” artinya ketersediaan fasilitas toilet yang tidak
mengganggu aktivitas publik, tidak mencemari lingkungan serta tidak berbahaya
bagi manusia. Jika diperhatikan saat ini begitu banyak penyedia jasa
pembersihan toilet yang hanya mencari keuntungan besar tanpa mempedulikan lingkungan
dengan memakai bahan pembersih berbahan kimia tinggi yang dapat merusak
lingkungan dan kesehatan manusia.
Jika selama ini kita
berharap pemerintah untuk menyediakan fasilitas toilet tentu itu tidak dapat
dilakukan dengan memuaskan karena berbagai macam kendala seperti anggaran dan
ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM). Untuk itulah sektor swasta perlu turun
tangan untuk menangani masalah tersebut. Kehadiran pihak swasta sangat
dibutuhkan. Dengan melihat dampak negatif yang ditimbulkan oleh minimnya
fasilitas toilet maka menjadi hal yang sangat mungkin jika penyediaan toilet di
tempat-tempat umum dikomersilkan atau menjadi Ide Bisnis yang sangat menarik.
Ide Bisnis toilet merupakan Peluang Usaha yang dapat memberikan begitu banyak dampak positif jika dilakukan dengan
serius seperti membantu sektor kesehatan, tenaga kerja serta prilaku budaya
bangsa karena dari toilet kita bisa memulai hidup sehat, hidup bersih, dan akan
menjadi identitas bangsa kita. Ada ungkapan yang mengatakan, untuk melihat
apakah organisasi suatu perusahaan memiliki manajemen yang baik, bisa dilihat
dari kebersihan toiletnya, tidak peduli apakah itu adalah perusahaan komersial,
sekolah, rumah sakit, hotel, terminal, bandara, ataupun badan usaha milik negara.
Potensi Peluang Usaha toilet
memang sangat menjanjikan. Ambil saja sebagai contoh kota Jakarta. Di kota
Jakarta ada begitu banyak tempat-tempat umum seperti pasar dan tempat-tempat
rekreasi yang minim menyediakan fasilitas toilet. Jika hanya di daerah Jakarta pihak
swasta dapat membuat toilet bersih dan sehat sekitar 100 buah toilet di
tempat-tempat strategis. Dengan asumsi dalam sehari terdapat 20 orang yang
menggunakan toilet dimana biaya sekali menggunakan toilet adalah Rp 1.000,-
untuk yang membuang air kecil dan Rp 2.000,- untuk yang membuang air besar maka
dalam sehari dapat meraih omset Rp 6.000.000,- Itu hanya
untuk omset, belum lagi dampak positif yang lainnya.
Sementara untuk
penyerapan lapangan pekerjaan, 1 toilet dapat menyerap tenaga kerja 2 orang. Artinya
dalam 100 tolet dapat menyerap 200 tenaga kerja. Setidak-tidaknya, hadirnya Ide Bisnis toilet dapat meringankan beban pemerintah dalam mengelolah dan menjaga sektor kesehatan ketika itu dapat direalisasikan karena sebagaimana diketahui bahwa penyebaran penyakit menular sering terjadi
melalui kotoran atau air kencing manusia. Jika diperhatikan prilaku masyarakat Indonesia
saat ini yang membuang air besar atau kecil sembarangan maka menjadi tanggung
jawab bersama terutama pebisnis bagaimana membuat toilet yang tidak hanya
sebagai tempat untuk pembuangan air kecil atau besar tetapi bagaimana
memberikan pendidikan kepada masyarakat untuk hidup bersih dan menjaga budayah
bersih serta sehat. Dengan tersedianya fasilitas toilet bersih dan sehat yang
memadai maka bangsa Indonesia dapat menjadi bangsa yang kuat dan hebat.
![]() |
| Ilustrasi Kegiatan Sektor Hulu Migas
Tulisan ini dapat juga dibaca di situs Kompasiana [Linknya]
|
Sampai saat ini peranan sektor Migas sangat penting dalam perekonomian Indonesia karena porsinya yang sangat besar dalam penerimaan negara. Apalagi kebijakan dari pemerintah dalam meningkatkan ketahanan energi nasional dengan penambahan cadangan dapat mengundang investasi-investasi baru pada sektor Migas. Sebagai negara yang kaya akan sumber energi seperti gas bumi, Indonesia mempunyai banyak harapan untuk tetap optimistik karena sampai saat ini, infrastruktur yang dimiliki tidak hanya kilang Liquefaction Natural Gas (LNG), pipa transmisi dan distribusi tetapi juga terminal penerima dan regasifikasi semakin meningkat.
Penerimaan Indonesia dari sektor Migas selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Tahun 2011 dan 2012 Indonesia memperoleh pendapatan sebesar US$ 35,79 miliar dan US$ 36,13 miliar melebihi target APBN yang telah ditetapkan yakni US$ 32,40 miliar dan US$ 33,48 miliar. Sementara tahun 2013 mencapai 252,4 triliun dan pada tahun 2014 tercatat Rp 320, 25 triliun atau 103 persen dari target APBN-P 2014 sebesar Rp 309,93 triliun. Hal itu menunjukkan bahwa sektor Migas selama ini telah memberikan peran penting dan strategis bagi pembangunan nasional.
Sebagai negara berkembang dengan jumlah penduduk terbesar ketiga di dunia, Indonesia dihadapkan pada tantangan bagaimana memenuhi kebutuhan domestik yang kian meningkat. Impor menjadi salah satu langkah untuk mengatasi masalah tersebut. Agar volume impor dapat dikurangi maka diperlukan laju investasi yang cepat sehingga kebutuhan domestik dapat terpeuhi. Jika diperhatikan, tahun 2012 investasi sektor hulu Migas cukup menggembirakan. Dengan jumlah US$ 15,57 miliar menunjukkan kenaikan dari tahun sebelumnya yakni hanya berkisar US$ 14,02 miliar. Peluang investasi di sektor hulu Migas yang sangat besar semakin menambah optimisme untuk percepatan peningkatan ekonomi nasional.
Belakangan ini, tantangan lain yang dihadapi sektor hulu Migas untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri adalah semakin besarnya ketergantungan masyarakat terhadap penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM). Sementara produksi minyak dalam negeri tidak sebanding dengan konsumsi minyak yang terus menerus melonjak. Permintaan minyak dalam negeri semakin tinggi, cadangan minyak semakin berkurang menuntut pemerintah untuk melakukan impor padahal itu dapat mempengaruhi ketahan energi nasional. Untuk mengurangi kesenjangan antara produksi dan konsumsi minyak dalam negeri maka pemanfaatan energi alternatif di luar minyak perlu dioptimalkan.
Sebut saja gas bumi. Berbeda halnya dengan minyak yang cadangannya semakin berkurang justru dalam beberapa tahun terakhir, penemuan cadangan gas jauh lebih besar. Semakin menambah optimisme bahwa ketergantungan masyarakat terhadapa penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) dapat diatasi jika pengelolaan dan penggunaan gas mampu dioptimalkan. Data pada tahun 2012 menunjukkan bahwa produksi gas jauh lebih besar bila dibandingkan dengan produksi minyak. Realisai produksi gas mencapai 8,2 miliar kaki kubik per hari atau 104,2 persen dari target APBN-P sementara produksi minyak hanya mencapai 92,47 persen atau 860.000 barel per hari dari target APBN-P sebesar 930.000 barel minyak per hari. Dengan semakin banyaknya penemuan cadangan gas maka porsi alokasi gas untuk kebutuhan dalam negeri harus lebih besar bila dibandingkan dengan minyak. Hal itu terlihat pada tahun 2013, jumlah alokasi gas mencapai 3.660 miliar British Thermal Unit per hari (BBTUD) sementara tahun 2012 hanya mencapai 3.550 BBTUD. Artinya, walaupun cadangan minyak berkurang tidak mempengaruhi sektor hulu Migas untuk bisa menunjang keberlangsungan peningkatan penerimaan negara jika pemanfaatan dan penggunaan gas benar-benar dapat dioptimalkan.
Dampak Gejolak Perekonomian Dunia Terhadap Sektor Hulu Migas
Perekonomian dunia diperkirakan ke depan tetap akan tumbuh positif meskipun di beberapa negara sudah mengalami gejala resesi. Hal itu didasari oleh laporan Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dalam World Oil Outlook 2013 yang menyatakan bahwa beberapa lembaga seperti IMF, Bank Dunia, ICF International, dan Oxford Economics Group memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia dalam beberapa tahun ke depan akan meningkat. Negara-negara berkembang akan menjadi kontributor pertumbuhan ekonomi dunia sementara negara-negara seperti China dan India akan menjadi motor utamanya.
Pertumbuhan GDP per tahun antara China, India, dan negara-negara berkembang rata-rata diatas 5 persen. Hal itu terlihat dalam World Oil Outlook 2013 yang memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi China dari tahun 2014 hingga 2018 rata-rata mencapai 7,7 persen. Sementara India rata-rata mencapai 6,8 persen dan negara-negara berkembang rata-rata mencapai 5,7 persen. Di negara-negara Eropa, Amerika, dan Afrika diperkirakan tetap akan mengalami peningkatan pertumbuhan ekonomi namun tidak mencapai 5 persen setiap tahunnya.
Dilihat dari pertumbuhan ekonomi global, OPEC memproyeksikan permintaan minyak dunia mengikuti skenario pertumbuhan ekonomi rendah maupun tinggi. Permintaan minyak akan semakin cepat pada negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi tinggi begitu pula sebaliknya. Negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi tinggi diperkirakan rata-rata membutuhkan pasokan minyak sebesar 9 juta barel per hari lebih tinggi bila dibandingkan dengan negara-negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi rendah. Sesuai proyeksi OPEC, negara-negara berkembang khususnya yang berada di kawasan Asia Fasifik akan mendominasi permintaan minyak dunia.
Melihat gejolak pertumbuhan ekonomi dunia yang semakin tinggi, sebagai negara yang kaya akan sumber energi alternatif di luar minyak, Indonesia dapat memainkan perannya pada sektor minyak. Walaupun permintaan minyak dalam negeri yang cukup tinggi, cadangan sektor gas bumi yang dimiliki dapat difokuskan pengelolaannya untuk memenuhi kebutuhan energi domestik sebagai pengganti konsumsi minyak. Sementara sektor minyak sendiri dapat memainkan perannya secara global. Hal itu sejalan dengan langkah yang dilakukan oleh pemerintah dengan mengurangi volume ekspor gas agar alokasi gas untuk domestik bisa lebih besar dan dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM). Jika langkah ini dapat dioptimalkan maka tidak menutup kemungkinan Indonesia yang selama ini dikenal sebagai negara pengimpor minyak dapat merubah perannya sebagai negara pengekspor minyak.
Perlunya Strategi Perang Sun Tzu Untuk Memenangi Persaingan Global
Kegiatan eksplorasi dan produksi yang memerlukan biaya tidak sedikit, teknologi canggih, beresiko tinggi serta persaingan minyak dan gas dunia yang semakin kompetitif menuntut pengelolah sektor hulu Migas untuk memiliki strategi mumpuni agar mampu memenangkan persaingan. Ibarat sebuah perang, sekuat apapun kompetitor yang kita hadapi selama kita memiliki strategi jitu pasti takkan mampu terkalahkan. Sektor hulu Migas merupakan sektor yang sangat memerlukan strategi dalam pengelolaannya agar mampu bersaing di pentas dunia dan dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya untuk perekonomian nasional.
Merujuk pada kitab panduan perang paling fenomenal “Seni Perang Sun Tzu” yang memuat tiga ajaran pokok yakni mengenali diri sendiri, mengenali musuh, dan mengenali medan tempur. Tiga ajaran itu memungkinkan sangat cocok diaplikasikan dalam pengelolaan sektor hulu Migas Indonesia, melihat kondisi persaingan minyak dan gas dunia dari tahun ke tahun kian kompetitif. Negara-negara di Amerika, Eropa, Afrika, serta Asia Fasifik semakin menunjukkan eksistensinya. Dalam kondisi seperti ini, Indonesia dapat memainkan perannya sesuai dengan visi pemerintahan, Indonesia sebagai poros maritim dunia.
Hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengenali diri sendiri. Sektor hulu Migas yang saat ini memberikan kontribusi besar bagi penerimaan negara setidaknya harus dapat mengenal dua komponen utamanya yakni Sumber Daya Manusia (SDM) dan teknologi. Pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM) sangat penting karena itulah yang akan melahirkan inovasi-inovasi teknologi baru dalam pengelolaan minyak dan gas. Sektor hulu Migas perlu membuat Pusat Pengkajian dan Pembelajaran Minyak dan Gas (PPP-Migas) dengan memberdayakan engineer-engineer yang kompeten di bidangnya. Sampai saat ini, Indonesia sangat banyak memiliki lulusan engineer baik dalam maupun luar negeri. Sangat disayangkan, mereka kurang diperhatikan sehingga ilmunya tidak ditransfer dengan baik. Pusat pengkajian dan pembelajaran inilah nantinya yang akan bekerjasama dengan kampus-kampus berbasis teknologi untuk melahirkan engineer-engineer berbakat hebat.
Kedua, mengenali musuh. Musuh utama yang dihadapi sektor hulu Migas adalah pemerintah itu sendiri. Jangan sampai kebijakan yang dibuat oleh pemerintah merugikan investor. Sistem kontrak antara pemerintah dan investor harus diperjelas serta proses perijinan dipermudah. Kemampuan pemerintah untuk menarik investor sangat ditentukan oleh kebijakan yang dibuat. Korupsi dan ketidakpastian hukum dapat menghambat laju investasi di sektor hulu Migas. Itulah yang terjadi pada tahun 1998 dimana perusahaan-perusahaan minyak Barat enggan memperpanjang operasi mereka. Akibatnya, sektor minyak menderita kekurangan investasi yang sangat besar, sumur-sumur minyak tua mengering lebih cepat daripada penemuan sumur-sumur baru. Hal semacam itu tentu tidak boleh terjadi pada era sekarang ini, kepastian hukum, transparansi, serta sistem kontrak yang jelas dapat mengundang investor dalam rangka meningkatkan produksi minyak dan gas.
Ketiga, mengenali medan tempur. Medan tempur untuk sektor hulu Migas tidak hanya luar tetapi juga dalam negeri. Bonus demografi Indonesia merupakan pasar baru yang cukup potensial. Apalagi dengan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) pada bulan Desember mendatang. Hanya saja, sektor Migas perlu memanfaatkan teknologi yang dimiliki secara optimal agar produksi minyak dan gas dapat meningkat. Hal itu tentu harus diiringi dengan bagaimana meningkatkan peran dan kualitas SDM yang dimiliki. Perpaduan antara SDM yang berkualitas dan teknologi canggih akan mampu mengantarkan Indonesia bersaing di pasar minyak dan gas dunia. Selain merajai pasar domestik juga dapat eksis di pasar global. Indonesia sebagai net importir minyak dapat merubah perannya sebagai eksportir.
Sebagai kesimpulan, dalam era globalisasi yang kian kompetitif ini, tidak ada pilihan lain selain sektor hulu Migas meningkatkan kinerjanya baik dalam konteks eksplorasi dan produksi, kepemimpinan, transparansi, manajemennya yang efisien dan efektif juga harus ditunjang oleh infrastruktur dan kekuatan financial yang memadai. Kuncinya adalah meningkatkan kapasitas SDM yang dimiliki. Pemerintah sebagai pemangku kebijakan harus memberikan kepastian hukum bagi kelancaran operasional sektor hulu Migas. Yang sangat dibutuhkan saat ini adalah dukungan dari pemerintah terhadap pengelolaan blok-blok Migas yakni menyangkut perizinan karena sering mempersulit para investor. Kerjasama yang baik antara pemerintah dan pihak swasta dapat menjadi angin segar buat sektor hulu Migas sebab itulah yang membuat tertarik para investor sehingga dapat meningkatkan produksi minyak dan gas dalam negeri. Dengan deminkian, sektor hulu Migas dapat menjadi sektor andalan penyokong utama perekonomian nasional.
Kecamatan Lunyuk terletak di ujung selatan Pulau Sumbawa, penduduk disana sangat beragam dan sebagain dari mereka adalah pendatang. Penduduk di Lunyuk hidup berkelompok sesuai dengan sukunya, ada yang dari Lombok, Bali, Jawa, bahkan ada juga warga China.
Sebagian besar penduduk Lunyuk adalah petani dan pedagang. Lahan pertanian sangat subur bahkan sebagian besar supply hasil bumi yang ada di Kabupaten Sumbawa berasal dari Lunyuk. Yang menarik di kecamatan Lunyuk; ada sebuah perkampungan yang terdiri dari perantauan dari Bali yang berasal dari beberapa kabupaten di Bali. Di Lunyuk mereka sudah memiliki Pura yang sangat megah sebagaimana yang ada di Pulau Bali.
BRANG BE
Brang Be (dalam bahasa Sumbawa : brang = sungai, kali, be = besar), adalah nama sungai yang terbesar di NTB, terletak di Kecamatan Lunyuk, Kabupaten Sumbawa terbentang dari Utara ke Selatan bermuara di Samudra Indonesia. Sebagai sungai yang besar terdapat banyak lubuk-lubuk yang dalam yang di huni berbagai jenis ikan al, hiu (pakek), pari, babonga, jerjat, serpi, arwana (kemang dangar),empa tana, ipin (sejenis teri), bung, kosar, udang, belut (tuna), dan berbagai jenis siput (siso, jampurang, tudai, se, sako).
Bahkan buaya banyak sekali dan sering makan korban hewan ternak dan manusia. Di dalam yang berupa pasir dan endapan lumpur disepanjang pinggir sungai, banyak terdapat kakulat gersik (jamur), dan tumbuh-tumbuhan yang dapat dijadikan sayur seperti garoso, peria, dll. Keadaan Brang Be masa lampau seperti tersebut di atas, kini tinggal kenangan. Akibat ulah tangan manusia yang tidak memelihara kekayaan alam sebagai rahmat Tuhan, masyarakat Kecamatan Lunyuk sekarang tinggal bernostalgia tentang kenyamanan masa lalu. Jika dulu mereka pemasok berbagai jenis kekayaan alam Lunyuk ke pasar di kota, kini sebaliknya mereka malah menjadi pembeli minyak kelapa, telur, ikan, dll dari kota.
Terlepas dari punahnya buaya dan berbagai jenis kekayaan dalam sungai dan daratan. Juga keadaan kesejahteraan masyarakat dapat dikatakan meningkat dibandingkan keadaan masa lampau yang didinabobokan (dimanjakan) alam yang sangat kaya dan ramah. Dengan adanya pembangunan irigasi teknis Dam Palara dan adanya prasarana dan sarana perhubungan, lalu lintas ekonomi menjadi lebih lancar, prasarana dan sarana komunikasi yang membawa keterbukaan, maka wajah Lunyuk yang diapit oleh dua buah sungai yaitu Brang Be dan Brang Ode kini sedang berproses menuju peralihan perkotaan.
Pada zaman dulu di kawasan Brang Be ini sudah dikenal adanya kekuasaan tradisional yang penguasanya terdiri dari “tau karong” (orang kesatria, pendekar), berturut-turut dari wilayah Utara sampai bagian Selatan terdapat nama-nama tau karong wilayah kekuasaannya sbb:
- Ali Keke – Batutara
- Rembit Patih – Jelapang
- Jaena – Tamalung
- Marece – Be
- Galim – Lunyuk
- Pekat – Selam
- Pin Kanga – Bilamate
Selain tau karong (satria) tersebut di atas, juga terdapat demung Be bernama Ahmad (Rato). Baik Ahmad (Rato) dan para tau karong tersebut di atas, masih dapat diketahui keturunannya yang ada di lunyuk sekarang, demikian juga bukti sejarah lainnya berupa makam-makam mereka al. makam Rembit Patih terdapat di Jelapang, Desa Lunyuk Rea.
Sejarah Wilayah
Berdasarkan asal usul turun temurun leluhur, dari keturunan kedatuan Mangan, yang mana dari tanah hutan atau hutan Adat di bagi dalam bentuk penguasaan atau pengolahan dengan di atur oleh pola pengaturan berdasarkan hukum adat - Dimana proses pengaturannnya, tanah sawah di atur untuk pertanian menanam padi, dan tanah kebun untuk perkebunan, keputusan ini di atur oleh hukum Adat dengan cara bersama-sama yang adil dan merata - Tanah yang keramat atau yang di kramatkan tidak boleh di ganggu gugat - Membuka ladang atau yang biasa di ssebut komunitas marau adalah sistem penebangan pohon dengan menggunakan kapak atau batek ( parang ) hal ini lebih kepada pohon yang kecil.
SEJARAH SINGKAT KOMUNITAS MASYARAKAT ADAT LUNYUK
Ringkas sejarah Seperti apa yang telah dikemukakan dalam buku sejarah Sumbawa yang di tuliskan oleh Lalu Maca pada tahun 1984” Sumbawa pada masa lampau” sajian buku ini banyak menceritakan tentang penduduk lama atau kerajaan-kerajaan kecil yang ada di Sumbawa, seperti di bagian lembaran tengah buku menceritakan tentang penduduk Sumbawa yang paling tua. Ks Viah sejarah menceritakan bahwa penduduk yang paling tua ada di bagian pantai selatan Sumbawa, pantai selatan yang di maksut adalah Selesek ( Dewa Datu Awan Maskuning ) Cek Bocek Selesek Ren Suri atau Suku Berco saat ini, Granta Tanganam, Nangka Lanung, Pekasa dan komunitas alinnya Kedatangan Datu Mangan Di Wilayah Selatan Sumbawa Datu mangan bedasarkan saksi sejarah hidup msyarakat geranta di Emang bahwa rombongan Datu Mangan datang ke pulau Sumbawa dengan menggunakan perahu layar bangka kapal, yang berlayar dari kerajaan goa pada sekitar abad ke 14 atau sekitar tahun 1499.
Rombongan Datu mangan ini berjumlah 40-orang, di dalam bangka tersebut bercampur aduk kepercayaan ada yang beragama Islam dan Hindu Datu mangan ini mendarat di pantai momil bagian selatan Kecamatan Lunyuk sekarang ini. Kemudian melanjutkan perjalanan dengan menyisir wilayah pantai, menginappun di pasir pantai. Wilayah Geranta yang posisi masih menjadi hutan yang lebat, Datu Mangan bersama rombongannya mencoba untuk menyisir ke wilayah pegunungan yakni memilih Geranta sebagai tempat tinggal mereka. Geranta ini pada awalnya sudah ada penduduk yakni bangsa manusia kanibal yang tidak mengerti atau paham Agama hanya percaya kepada apa yang di anggap memilik kelebihan gaib, ada yang menyembah batu , pohon, angin, air atau binatang lainnya, istilah bahasa Granta ini adalah Goran Talo artinya dari bangsa perampok yang mengasingkan diri untuk sifat sementara, selanjutnya dikatakan “Goran Talo” mengalami kekalahan atas perlawanan Perlawanan Datu Mangan Dengan Geranta/Goran Talo Dengan taktik perang dan perlawanan yang di lakukan oelh rombongan Datu Mangan dibawah kepemimpinan Datu Mangan sendiri, akhirnya Geranta ini di lakukan untuk di kuasai dan apabila dari goran tersebut tidak mau pindah atau pilihan untuk bersatu maka pilihan ternatif adalah dibunuh.
Dan pada akhirnya penduduk kecil Geranta ini atau Goran Talo ini di ajak bersatu bagi yang mau bersatu dan yang tidak akan di usir bahkan dibunuh oleh rombongan Datu Mangan Setelah beberapa tahun kemudian Datu Mangan membentuk pemerintahan secara hukum Adat, nama kepemerintahannya adalah Palanung Adat. Palanung Adat ini sama dengan istilah sekarang adalah kepala Adat yang sebagai pemegang kendali kekuasaan tertinggi. Penguasaan wilyahpun di kembangkanlah untuk membentuk persawahan secara perladangan, seperti Sampar goal, Lenang peleler, Sampak Lok, Tiu dali, Alot Batu gantis, erat inyir, erat katujir, orong telaga,kuan sea, ruak batu anar, ruak batu adang, batu talat,malau, balengkong, orong tebit, orong sepang, unter panuja, sampar bontonh, tiu baru, berang sisi, dan daerah-daerah lain wilayah kekuasaan Geranta dibawah kepemimpinan Datu Mangan ini kurang lebih 20.000 Ha yang di tandai secara hukum adat. Pada Tahun 1500-an Tahta Adat Mulai Dibangun Tahta adat mulai di bangun dan membentuk kelembagaan Adat pemerintahan Adat sendiri dengan diberikan nama “Padring Adat” kekuasaan dibawah pemerintahan Adat, Hukum adat mulai berjalan konsep kewilayahan mulai ditata dan di bangun rapi. Semua wilayah Goran tersebut ditata rapi kembali dan mulai pula untuk membangun perumahan, perkebunan, perladangan yang walaupun sistem berpindah-pindah. Padring Adat mulai dijalankan dan di terapkan sebagai dasar hukum sehari hari, pengembangan agama hindu mulai di tanam di warga adatnya. Datu Mangan yang beritri demi dan anaknya yang bernama “Buang” Buang ini adalah anak pertama Datu Mangan Yang sangat di manjakan, namun mempunyai kelebihan yaitu sudah tertanam dari kecil cerdik cerdas dan pandai memutuskan perkara.
Akan tetapi memiliki sifat yang bandel tidak mau mengikuti ajaran bapaknya, lalu di buang ke pulau Lombok sampai di pulau Lombok mulailah belajar agama Islam. Buang pada saat dia berumur 20-an tahun sudah pandai mengaji dan mengamalkan ayat alqur’an, akhirnya beberapa tahun ia di lombok kemudian pulang ke Geranta untuk mengembangkan Agama Islam, agama Islam di upayakan untuk di tinggalkan perjuangan Buang pun berhasil, seluruh masyarakat Granta memeluk Agama Islam. Kepmimpinan buang di geranta tahun 1580-1788 Kepemimpinan Buang cukup lama, karena disini terjadi dualisme kepemimpinan petama memimpin dengan menggunakan sistem keagamaan ke Islaman dan kedua menggunakan sitem Hukum Adat palanung dibawah padring Adat. Di saat bersamaan waktu Buang ini, sering keluar mengelilingi Nusantara untuk memperdalam kembali ilmu keagamaannya, sehingga untuk melanjutkan ajaran Islam dan menerapkan hukum Adatnya adalah dibawah Padring Bonong. Dinamakan Bonong karena akalnya, sering suka bohong dan mengakali para anak cucu Adatnya, permainan anak-anak lahir dan tercipta oleh Bonong ini.
Bonong dan buang kurang lebih 208 tahun, kemudian Buang Wafat pada umur 75 tahun Buang memimpin dengan mengembangkan konsep Islam menanamkan ahlak dan akidah. Karna pada prinsipnya Agama sebagai pondasi dasar dalam hidup. Buang mengatakan ini adalah hakekat hidup adalah sesungguhnya di akhirat kelak pembelajaran Agama Islam mulai pelan-pelan di terapkan degan membuka pendidikan Al Qur’an. Dimasa inilah perkembangan Islam di wilayah Geranta, Tanganan, Pekasa dam sekitarnya. Di tambah dengan pengaruh kekuatan ke Islaman Raja Qurain dari Pekasa, semakin lama semakin padat penduduknya dan berdatangan pula dari daerah-daerah lain Dimasa Kepemimpinan Kerong Kerong mewarisi kekuasaan Adat di mulai dari tahun 1788-1805, Kerong ini dinamakan Kerong karena orangnya keras dan beringas yang sangat di takutkan pleh penduduk Adat Geranta dan sekitar lainnya, kekuatan gaya dan pola kepemimpinan yang sangat beda, masing-masing memiliki gaya tersendiri .
Dalam masa kepemimpinannya Kerong berusia ±75 tahun. Tahun 1840-1875 Kepemimpinan Badong Kepemimpinan dari keturunan ke-4 ( empat ) Datu Mangan ini , adalah mengembangkan kepemimpinan dengan sistem penciptaan pengembangan ekonomi, wilayah-wilayah kekuasaan Geranta itu di ciptakan untuk kesejahteraan konsep kemandirian, banyak tantangan dan cobaan karena konsep kegiatan ekonomi perdagangan dan sistem bartener mulai di coba, istilah geranta “Lalo Badea” karena Geranta ini terkenal dengan hasil hutan yang cukup banyak seperti Kemiri, kelapa, nangka, mangga dan hasil alam lainnya, silih berganti berdatangan para pedagang-pedagangan lainnya Bandu memerintah adat 1815-1875 Menurut riwayat para tau lokak adat kami. Bahwa kisah umur Bandu ini sampai 74 tahun, dimasa inilah pengaruh-pengaruh kerajan-kerajaan dan kedatuan. kalangan kebangsawan berdatang untuk mencari dan pertukaran budaya, bahkan ceritanya pengaruh-pengaruh compeni pun datang. Manca Kepala Adat dari tahun 1931 – sekarang ini Manca yang saat ini berumur 80 tahun yang lahir pada tahun 1931 di Geranta, dimasa papen manca, banyak terjadi bergejolak dan pengaruh-pengaruh kekuasaan maupun raja-raja kecil di nusantara semakin padat, sehingga kekukasaan-kekuasaan kerajaan lain yang mencoba untuk mempersatukan wilayah Geranta dengan Kerajaan lainnya. Namun Papen manca tetap tidak mau, masih di ingat dalam benaknya di saat disaat berumur 8 tahun perjalanan pemindahan paksapun di lakukan. Pepen Manca mengikti gerak-gerak dan pada ayahnya dan keluarganya agar tidak terjadi pertumpahan darah maka pemindahanpun terlaksana. Maka masyarakat adat yang ada di Geranta dipindahkan ke Emang, namun secara asal usul turun tenurun tetap menguasai wilayah Geranta.
Selanjutnya membentuk perkampungan baru di Emang yang di tempatkan sekarang menjadim induk komunitas Geranta, waktu itu posisi Emang masih menghutan, kemerdekaan 1945 di nikmati di Emang. Mustafa Bin Manca, adalah anak dari Papen Manca, yang merupakan keturunan asli Geranta yang mewarisi hak ulayat ( Iar lamat Geranta ) saat ini, yang secara turun temurun Adat istiadat yang sebelumnya menjadi hak ulayat sampai sekarang ini dikuasai oleh keturunan asli Geranta. Tetap dalam konteks adat istiadat di jalankan untuk kehidupan sehari-hari Saksi hidup sejarah ; Papen Sila/Stengon, Papen H sadik, Papen Ibo, H.Tarau dan lain-lainnya.
Tulisan ini dapat juga dibaca di situs Kompasiana [Linknya]
Dewasa ini, masalah yang dihadapi Indonesia adalah terpusatnya pembangunan di kota-kota besar yang membuat terjadinya urbanisasi. Ketimpangan Desa-Kota mengakibatkan masyarakat pedesaan menjadikan kota sebagai pusat mimpi untuk perbaikan nasib dimana semua kebahagiaan dapat diraih. Kota seolah-olah menjadi magnet yang memberikan harapan hidup lebih baik untuk setiap warga Negara Indonesia.
Rendahnya kualitas kepemimpinan daerah dalam mendorong pembangunan menjadi salah satu penyebab ketimpangan itu terjadi. Konsep pembangunan yang kurang tepat berefek pada kesejahteraan masyarakat. Munculnya berbagai persoalan baru adalah buah dari kebijakan yang dianggap tepat namun sebaliknya. Tidak heran jika ketimpangan itu mengundang sikap skepstis dari sekelompok masyarakat terhadap pemerintah. Disitulah dibutuhkan tindakan yang inovatif, kreatif, dan transformasional untuk mengatasi ketimpangan yang terjadi. Langkah-langkah revolusioner perlu dilakukan agar ketimpangan Desa-Kota tidak lagi menjadi masalah pembanguna Indonesia.
Langkah revolusioner yang dimaksud adalah “Revolusi dari Desa”. Sebuah konsep pembangunan yang menyerahkan kepercayaan sepenuhnya kepada masyarakat desa. Pemberian kewenangan urusan kepada birokrasi desa merupakan langkah gila yang dilakukan oleh Bupati Malinau. Dr. Yansen TP.,M.Si dengan sepenuh hati atas dasar kepercayaan memberikan kewenangan kepada desa karena dengan cara itulah, pembangunan akan menjadi lebih fokus pada penanganan permaslahan di desa.
Gagasan “Revolusi dari Desa” dengan program Gerakan Desa Membangun (GERDEMA) menjadi program andalan untuk mengatasi kemiskinan dan ketimpangan pembangunan Desa-Kota. Inilah jawaban atas permaslahan yang dihadapi Indonesia selama ini. GERDEMA menempatkan rakyat sebagai kekuatan kunci pembangunan karena rakyatlah yang lebih mengetahui dan mengerti bagaimana cara mengelola potensi dan nilai yang ada di desa. Tiga hal yang menjadi esensi konsep GARDEMA adalah gerakan yang berasa dari rakyat, dilakukan oleh rakyat, dan manfaatnya langsung dirasakan oleh rakyat.
Jika selama ini, perencanaan pembangunan Indonesia lebih dominan menggunakan model “Top Down” maka GERDEMA hadir untuk memberikan inovasi perencanaan pembangunan dengan konsep kombinasi model “Top Down dan Bottom Up”. Melalui bukunya, Dr. Yansen TP.,M.Si memberikan penekanan bahwa kepemimpinan menjadi syarat mutlak keberhasilan pelaksanaan GERDEMA. Oleh karena itu, GERDEMA hadir untuk memberdayakan pemerintah desa karena banyak pemerintah desa hanya bersifat formalitas. Dengan hadirnmya GERDEMA, pemerintah desa lebih aktif, kreatif dan partisipatif untuk menggunakan kearifan lokal yang dimiliki dalam menghadapi persoalan yang dialami.
Sebagai seorang pemimpin, penulis, sekaligus ilmuan, Dr. Yansen TP.,M.Si memahami bahwa “Revolusi dari Desa” merupakan sebuah gerakan dari bawah. Masyarakat tidak hanya sebagai objek tetapi sekaligus juga sebagi subjek pembangunan. Dalam hal ini, masyarakatlah yang harus melaksanakan pembanguna dan menikmati hasil pembangunan itu. Itulah sebabnya Gerakan Desa Membangun (GERDEMA) sangat diperlukan untuk mewujudkan keberhasilan pembangunan pedesaan.
Melalui bukunya, Dr. Yansen TP.,M.Si menawarkan gagasan “Revolusi dari Desa” untuk membangun Indonesia. Sebuah gagasan yang merupakan hasil riset disertasinya yang sudah diuji di Kabupaten Malinau. Ide gila membangun Indonesia dari desa terbukti dapat meningkatkan pelayanan publik seperti pelayanan dalam bidang pendidikan, kesehatan, pelayanan air bersih, pelayanan ketersediaan listrik pedesaan dan pelayanan pemerintahan.
Dampaknya adalah terjadinya peningkatan produksi pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan pendapatan masyarakat pedesaan di Kabupaten Malinau. Dari hasil survei yang dilakukan menunjukkan bahwa 70,25% responden mengakui bahwa program GERDEMA telah mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan 72,93% responden juga mengakui bahwa GERDEMA sukses meningkatkan pendapatan masyarakat pedesaan.
GERDEMA terbukti berdampak besar terhadap terjadinya perubahan prilaku yang positif dan bermanfaat dalam membentuk kemampuan penyelenggaraan pemerintahan desa. Sebagai Bupati Kabupaten Malinau, Dr. Yansen TP., M.Si menekankan bahwa syarat kesuksesan GERDEMA adalah dengan memberi kepercayaan sepenuhnya, melakukan pembinaan, dan pendampingan yang konsisten dan terus menerus kepada pemerintah desa, masyarakat desa, dan pelaku ekonomi di desa. Kemampuan penyelenggaraan pemerintahan desa adalah yang menjadi tujuan utamama suksesnya Gerakan Desa Membangun (GERDEMA). “Revolusi dari Desa” itulah cara gila membangun Indonesia.
Judul Buku : Revolusi dari Desa
Penerbit : PT. Alex Media Komputindo
Penulis : Dr. Yansen TP.,M.Si
Jumlah halaman : 180 halaman
Tahun terbit : 2014
![]() |
| [Ilustrasi: Hamparan Syurga Itu Bernama Lombok-Sumbawa. Sumber: Google Maps] |
Takjub menyaksikan sunrise di puncak Rinjani dan Tambora. Terpukau oleh sunset
di bibir Sengingi dan Kencana. Terpesona memandang hijaunya hamparan
tembakau dan padi yang menguning. Terpikat akan percikan air terjun
membasahi batu berlumut. Kagum melihat Estetika budaya SASAMBO.
Benar adanya, Keindahan itu adalah Lombok-Sumbawa.
Indonesia, negara tempat dimana ribuan budaya menyatu dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika. Ribuan bahasa diikat oleh Sumpah Pemuda. Ribuan pulau berhimpun dalam wilayah Nusantara. Dilalui oleh garis khatulistiwa membuatnya memukau dunia. Tak pernah kehabisan kata-kata untuk melukiskan keindahannya.
Indonesia, negara tempat dimana permadani syurga berhamburan. Alam Nusantara dengan eksotisme yang sungguh indah menakjubkan. Pesona raja ampat yang tiada tara, daya magis pulau komodo yang mendunia, keindahan pantai kuta di pulau dewata Bali adalah surganya turis mancanegara. Tak dapat dipungkiri lagi bahwa, Bali merupakan salah satu tujuan wisata yang paling popular di Indonesia.
Namun siapa yang pernah menduga dan mengira, diantara keindahan pulau dewata dan eksotisme pulau komodo, terbentang dua pulau besar yang siap memikat para wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Dua pulau dengan dua gunung kokoh yang menjulang tinggi. Dikelilingi oleh pulau-pulau kecil nan unik menunggu para wisatawan yang datang. Deburan ombaknya yang bergulung-gulung mendamaikan hati yang menyaksikannya.
Tidak hanya dikelilingi oleh pulau-pulau kecil elok dan pantai nan indah. Di kaki gunungnya juga tersembunyi air terjun cantik. Desiran dan kesejukan airnya menghilangkan dahaga para pendaki. Hamparan sawah dilembah sekitar pegunungan, hijau saat musim tanam dan kuning ketika hendak dipanen. Indah, memang indah.
Dua pulau yang mayoritas penduduknya didiami oleh tiga suku, tiga budaya, dan tiga bahasa. Adat istiadat, tradisi yang dimiliki mampu membuat kita berdecak kagum. Sungguh, selain memancarkan pesona alam yang memukau juga memiliki daya tarik budaya masyarakat yang menakjubkan. Sehingga pantaslah disebut “Hamparan Syurga Itu Bernama Lombok-Sumbawa”.
Mengapa Lombok-Sumbawa?
Lombok-Sumbawa merupakan dua pulau terbesar di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Salah satu provinsi kepualaun di Indonesia yang dikelilingi oleh sekitar 278 pulau-pulau kecil nan elok yang biasa disebut Gili. Mayoritas penduduk Pulau Lombok adalah Suku Sasak. Suku yang terkenal akan keramahannya, santun, toleran, dan sangat menjunjung tinggi nilai-nilai religi. Kesadaran beragama masyarakat sasak yang sangat kuat diekspresikan melalui pembangunan masjid-masjid.
Aktivitas membangun masjid laksana sebuah perlombaan. Dengan sukarela dan semangat gotong royong, masyarakat Sasak mendirikan masjid di lingkungan masing-masing. Dari pusat kota hingga pelosok desa kita bisa menyaksikan bangunan masjid yang megah nan indah. Menara masjid yang menjulang tinggi seolah-olah melambangkan kokohnya semangat masyarakat Pulau Lombok dalam menjalankan agama. Itulah mengapa Pulau Lombok juga disebut sebagai Pulau Seribu Masjid.
Lain halnya dengan Sumbawa. Pulau yang sebagian besar penduduknya adalah Suku Sumbawa dan Suku Mbojo. Salah satu keunikan masyarakat pulau Sumbawa adalah sikap keterbukaan yang siap menerima siapa saja yang datang tanpa membedakan suku, agama, maupun ras. Keterbukaan itulah yang menjadi identitas dan kearifan lokal masyarakat Sumbawa.
Jika Lombok disebut sebagai Pulau Seribu Masjid maka Sumbawa dikenal sebagai Pulau Emas. Sebagian besar Pulau Sumbawa merupakan daerah penghasil tambang emas. Di wilayah barat tepatnya di Kabupaten Sumbawa Barat terdapat tambang emas terbesar di Indonesia. Di mata dunia, Sumbawa dikenal sebagai pulau yang menyimpan gunung emas. Itulah sebabnya Pulau Sumbawa disebut sebagai Tanah “Intan Bulaeng” yang bermakna “Emas Permata”.
Eksotisme Alam Kepulauan Lombok-Sumbawa
Ketika mendengar nama Lombok-Sumbawa maka bayangan setiap orang akan menerawang ke daerah kepulauan diantara Pulau Bali dan Pulau Nusa Tenggara Timur (NTT). Lombok-Sumbawa yang terkenal dengan keindahan alamnya menjadi syurga bagi para penyelam, pendaki, dan peselancar. Sulit dilukiskan dengan kata-kata ketika menikmati eksotisme Kepulauan Lombok-Sumbawa.
Bagi para pendaki, tak ada yang lebih menantang selain menaklukkan puncak Rinjani dan Tambora. Dua gunung berapi yang masih aktif ini akan memberikan keajaiban untuk setiap orang yang mampu menaklukkannya. Rinjani, gunung yang terletak di Pulau Lombok dengan ketinggian 3.726 m merupakan gunung tertinggi kedua di Indonesia. Di kaldera Gunung Rinjani terdapat danau yang disebut danau Segara Anak atau Anak Laut. Pemandangan di danau Segara Anak yang begitu indah menakjubkan membuat wisatawan luar maupun dalam negeri berdatangan untuk melihat dan menikmati pesonanya.
Di kaki gunung rinjani terdapat air terjun Sendang Gile dan Tiu Kelep yang begitu cantik mempesona. Kesejukan airnya yang sangat bening, pemandangan yang hijau nan alami dan hembusan kabutnya memenuhi sekitar lembah menjadi daya pikat tersendiri buat para wisatawan. Dalam kepercayaan masyarakat setempat, kedua air terjun ini diyakini dapat menyembuhkan berbagai penyakit dan membuat tampak awet muda.
![]() |
| [Gambar 1. Puncak Gunung Rinjani, 2. Puncak Gunung Tambora. Sumber: Google Maps] |
Sementara Gunung Tambora yang terletak di Pulau Sumbawa tepatnya di Bima juga tidak kalah menakjubkan. Gunung dengan ketinggian 2.851 m di bawah permukaan laut ini memiliki kawah raksasa. Jika Gunung Rinjani menjadi gunung tertinggi kedua di Indonesia maka Gunung Tambora oleh peneliti dijuluki sebagai “The Greatest Crater in Indonesia” atau gunung api dengan kawah terbesar di Indonesia.
Tak ada yang lebih indah selain menikmati sunrire dari puncak Tambora dengan pemandangan kawah, padang pasir yang luas, hamparan lautan, dan pulau satonda yang dikelilingi tebing-tebing perbukitan disertai pemandangan danau yang jernih. Gunung Tambora memiliki sejarah kelam yang cukup mengerikan. Letusannya pada tahun 1815 mampu mengguncang bumi hinga ratusan mil dan dampanya mengakibatkan kegagalan panen di China, Eropa, dan Irlandia. Keunikannya telah menarik perhatian dunia Internasional sebagai tempat studi arkeologi dan biologi. Itulah Tambora, gunung dengan panorama alam yang spektakuler dengan sejarah letusannya yang mendunia.
Lombok-Sumbawa bukan hanya menantang bagi para pendaki tetapi juga menjadi tempat uji nyali para peselancar. Tak diragukan lagi, Lombok-Sumbawa menyediakan berbagai tempat surfing dengan ombak yang sangat bagus. Pantai Kuta di Lombok bagian selatan, Senggigi, Pantai Lakey di Dompu, juga Pantai Selatan Sumbawa menjadi surganya para peselancar.
Di puncak Rinjani dan Tambora, para pendaki merasakan hangatnya sunrise sementara di bibir Senggigi, para peselancar dapat menikmati keindahan alam raya tanpa batas sesaat menjelang terbenamnya matahari. Suasana pantai senggingi akan terasa sangat romanis manakala menyaksikan matahari yang perlahan turun pasti dengan langit kemerahan tenggelam dalam kesenyapan alami menentramkan. Senggigi menjadi tempat bermadu kasih para muda-mudi di sore hari.
Para pendaki boleh puas tatkala mampu menaklukkan Rinjani dan Tambora. Begitu pula sang peselancar dengan aksinya yang meliuk-liuk di gulungan ombak Kuta, Lakey, dan Senggigi. Tapi itu semua tidaklah cukup sebelum menyaksikan keindahan alam bawah laut Lombok-Sumbawa. Tiga gili eksotis di Lombok adalah Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno mempunyai terumbu karang lengkap dengan atribut ikan hiasnya menjadikan tiga pulau ini sebagai idaman para wisatwan.
![]() |
| [Gambar 1. Wisata Tiga Gili, 2. Pulau Moyo. Sumber: Google Maps] |
Berbeda dengan wisata tiga gili di Lombok, keindahan alam bawah laut Pulau Moyo Sumbawa tak kalah menakjubkan. Dalam beberapa literatur, Pulau Moyo pernah dikunjungi oleh Putri Diana dari Inggris. Pulau yang juga terkenal akan terumbu karangnya, hutan yang nyaris tak tersentuh, air terjun serta sungai-sungai masih sangat alami. Menjadi salah satu keunggulan, Pulau Moyo yang berada tepat di mulut teluk Saleh. Teluk yang dijuluki “Aquarium Raksasa Sumbawa”. Konon, berdasarkan hasil penelitian Badan Informasi Geospasial (BIG) menemukan bahwa perairan Teluk Saleh di huni oleh 59 genus Karang, dan 405 jenis ikan karang. Sungguh, Inilah syurga baru yang selama ini tersembunyi di perairan Pulau Sumbawa.
Estetika Budaya Lombok-Sumbawa
Lombok-Sumbawa tak hanya menawarkan panorama alam nan indah tetapi juga menyimpan estetika budaya nan elok. Elok rupawan warna warni budaya Lombok-Sumbawa digambarkan melalui berbagai kesenian tradisional yang hingga kini masih dilestarikan. Kesenian dalam bentuk tarian, upacara adat, rumah adat, pakaian adat, alat musik daerah, hingga kerajinan tangan yang menunjukkan entitas dan identitas masyarakat Nusa Tenggara Barat.
Sasak, suku terbesar di Pulau Lombok mempunyai sejarah yang tidak bisa lepas dari pengaruh suku Bali. Sebelumnya, kerajaan Bali pernah menduduki Lombok Barat sekitar abad ke-17. Oleh karenanya, antara Bali dan Lombok mempunyai beberapa kesamaan budaya dalam hal bahasa dan tulisan, yang jika ditelusuri asal-usulnya banyak berakar dari Hindu Jawa.
Lombok mempunyai banyak kesenian tradisional seperti bau nyale, slober, lomba memaos, periseian, begasingan, bebubus batu, tandang mendet, sabuk belo, dan gendang beleq. Adapun tarian tradisional yang sangat khas adalah tarian gandrung atau jangger. Tarian ini lahir untuk menghibur para prajurit yang pulang dari medan perang. Tarian gandrung sudah ada sejak zaman Erlangga. Itulah sedikit pesona budaya masyarakat Lombok.
Setiap suku selalu memiliki karakter dan budaya khas masing-masing. Begitu juga dengan Pulau Sumbawa. Pulau yang didiami oleh mayoritas Suku Samawa dan Suku Mbojo ini menawarkan beragam pesona budaya. Suku Samawa memiliki tradisi yang spektakuler yakni tradisi Barapan Kebo. Tradisi yang dianggap sebagai arena pertaruhan harga diri dan martabat para peserta yang mengikuti kompetisi. Tradisi ini telah mengakar dalam budaya masyarakat Sumbawa.
Tak hanya itu, berbagai kesenian tradisional Sumbawa seperti balawas, sakeco, ngumang, badede adat, badede anak-anak, gong, genang, sarune, tari tanak, seni klingking dan lawas. Begitu kayanya khasanah tradisi Suku Samawa. Begitupun Suku Mbojo yang memiliki beragam tarian tradisional seperti tari hadrah, tari kanja, tari karaenta, tari katumbu, tari toja, tari lengsara, tari mpa’a, dan tari sere.
![]() |
| [Gambar 1. Barapan Kebo, 2. Tari Sampela Mbojo, 3. Tari Gandrung Lombok. Sumber: Youtube] |
Sasak, Samawa, Mbojo atau lazimnya disebut Sasambo memiliki warisan budaya yang merupakan salah satu pesona budaya yang dapat menjadi daya pikat kultural Nusa Tenggara Barat di mata masyarakat regional dan global. Bahkan Provinsi Nusa Tenggara Barat mempunyai batik khas nan unik dengan keindahan corak dan motifnya yang dinamakan “Batik Sasambo”, kepanjangan dari Sasak, Samawa, Mbojo.
Lombok-Sumbawa Sebagai Pusat Wisata Religi Nusantara
Nusa Tenggara Barat dengan eksotisme alam kepulauan nan elok dan ragam estetika budaya diakui memiliki ciri khas sebagai daerah yang sagat religius. Kehidupan keagamaan yang berkembang di Lombok-Sumbawa dapat dilihat dengan banyaknya pondok pesantren, masjid-masjid, dan berbagai macam ritual keagamaan. Lombok yang sudah dikenal sebagai Pulau Seribu Masjid, sementara Sumbawa terdapat dua Kesultanan Islam yakni Kesultanan Sumbawa dan Kesultanan Bima.
Didukung dengan karakteristik masyarakat yang ramah, santun, dan toleran menjadi salah satu keunggulan Provinsi Nusa Tenggara Barat untuk dipromosikan menjadi pusat wisata religi Nusantara. Megahnya masjid Islamic Center yang berada di jantung Kota Mataram seolah-olah menunjukkan bahwa Lombok-Sumbawa merupakan wisata religi Timur Tengah yang ada di Indonesia. “Menara 99” Islamic Center sebagai bukti eksistensi Islam di NTB.
![]() |
| [Islamic Center NTB. Sumber: www.skyscrapercity.com] |
Tak banyak kata untuk melukiskan betapa Lombok-Sumbawa menyimpan pesona syurga yang tiada tara. Dengan mengunjungi Lombok-Sumbawa kita dapat menyaksikan hamparan bumi pertiwi dari puncak Rinjani dan Tambora. Laut yang membentang luas dengan air jernih kebiruan. Terumbu karang dan ikan-ikan nan lucu menggoda setiap penyelam. Kuba dan menara masjid nan megah. Berbagai peninggalan sejarah. Makam-makam yang diyakini keramat oleh masyarakat setempat dan masih banyak sekali.
Itulah keunikan Lombok-Sumbawa bila dibandingkan dengan provinsi lain yang ada di Indonesia. Ibarat pepatah, “Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui”. Lombok-Sumbawa menawarkan sejuta pesona. Dengan panorama alam, ragam estetika budaya, kearifan lokal dan religiusitas masyarakatnya menjadikan Lombok-Sumbawa sebagai hamparan syurga di wilayah Nusantara.
Tulisan ini dapat juga dibaca di situs Twgathering [Linknya]
Tulisan ini dapat juga dibaca di situs Twgathering [Linknya]
Sumber:
www.indonesia.travel
www.rungandigital.com
www.indotravelers.com
www.wacananusantara.org
www.id.lombokindonesia.org
www.visitlomboksumbawa.com
www.lombok.panduanwisata.com
Popular Post
-
Kecamatan Lunyuk terletak di ujung selatan Pulau Sumbawa, penduduk disana sangat beragam dan sebagain dari mereka adalah pendatang. Pend...
-
UKI KIFLI , itulah nama yang diberikan oleh kedua orang tuaku. Lahir pada tanggal 14 Maret 1989. Nama ini cukuplah unik, ...
-
[Ilustrasi: Hamparan Syurga Itu Bernama Lombok-Sumbawa. Sumber: Google Maps] Takjub menyaksikan sunrise di puncak Rinjani dan Tambora...
-
Tulisan ini dapat juga dibaca di situs Sumbawanews [ Linknya ] Alangkah beruntung dan bersyukurnya hidup di negara yang penuh dengan ...
-
Tulisan ini dapat juga dibaca di situs Kompasiana [ Linknya ] Dewasa ini, masalah yang dihadapi Indonesia adalah terpusatnya pemba...
-
Tulisan ini dapat juga dibaca di situs Dakwatuna [ Linknya ] Alangkah bahagianya orang – orang yang telah diberikan keteguhan hati ol...
-
Tulisan ini dapat juga dibaca di situs Detik [ Linknya ] Berbicang – bincang tentang demokrasi yang ada di negeri ini tak akan pern...
-
[Tulisan ini diterbitkan di Lombok Post-8/11/2014] Wacana pembentukan Provinsi Pulau Sumbawa (PPS) dari tahun ke tahun semakin menguat...
-
Tulisan ini dapat juga dibaca di situs Dakwatuna [ Linknya ] Ingatkah kita dengan kisah senjata penghancur massal, senjata paling mer...
-
Tulisan ini dapat juga dibaca di situs Dakwatuna [ Linknya ] Sahabat dahsyat, pernahkah sahabat mendengar potongan kalimat “Berpiki...










